Video Malari Affairs
Maret 26, 2008
Foto bergambar Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Brigadir Jenderal Herman Sarens Sudiro di tengah kerumunan massa ini segera dikenang orang dengan sebuah peristiwa di tahun 1974. Itulah peristiwa Malari — malapetaka lima belas januari.
Itu waktu, mahasiswa turun ke jalan, menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, yang dianggap simbol modal asing yang mesti dienyahkan. Namun, aksi ini kemudian berujung pada kerusuhan. Massa yang mengaku dari kalangan buruh datang dan menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan kawasan Glodok, menjarah serta membakar mobil buatan Jepang.
Jenderal Soemitro sempat menghadang massa di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Ia berusaha membelokkan gerakan massa yang mengarah ke Istana Presiden. ”Ayo, ikut saya, kita jalan sama-sama ke Kebayoran!” teriaknya. Soemitro ingin membuat tujuan mereka menyimpang, tidak ke arah Monas….
Tapi massa tidak beranjak, dan Jakarta akhirnya terlanjur rusuh oleh keliaran dan kemarahan. Belasan orang tewas, ratusan luka-luka, hampir seribu mobil dan motor dirusak dan dibakar, serta ratusan bangunan rusak. Juga termasuk 160 kilogram emas yang hilang dari sejumlah toko perhiasan.
Foto di atas, yang dibesut mat kodak majalah Tempo, Syahrir Wahab, telah menjadi saksi sejarah betapa peristiwa anarchy itu tak pernah terungkap, hingga hari ini. Pengadilan toh tak bisa membuktikan mahasiswa ada di balik aksi tersebut. Maka kemudian ada dugaan bahwa petaka Malari adalah bara yang memercik akibat rivalitas antara Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo yang kala itu menjadi asisten pribadi Presiden dan Kepala Operasi Khusus. Soemitro dituding memiliki ambisi kekuasaan. Akibat peristiwa ini, Presiden Soeharto mencopot Soemitro dari kursi Pangkopkamtib/Wapangab, dan lembaga Aspri yang dipimpin Ali Moertopo dibubarkan.
Sejumlah peristiwa kerusuhan di tanah air seperti Malari, Tanjung Priok, 27 Juli, Trisakti, hingga Kerusuan 1998, pada akhirnya memang cuma menjadi dokumen sejarah kekerasan, tidak pernah diketahui simpul masalah dan penyelesaiannya—seperti kata sejarawan Asvi Warman Adam bahwa “Kekerasan di Indonesia hanya dapat dirasakan, dan tidak untuk diungkap tuntas”.
Video ini saya buat dari hasil jepretan Syahrir Wahab, sementara ilustrasi musik saya besut dari karya ilustrator musik film Thoersi Argeswara untuk film dokumenter Semanggi Attack.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed