Video Rendra
Inilah film WS Rendra yang fenomenal. Betapa tidak. Sedari awal, film Yang Muda Yang Bercinta karya Syumanjaya yang diproduksi pada 1978 ini sudah menyedot perhatian. Yang pertama menghebohkan adalah aparat keamanan, yang tidak memperkenankan sinema ini beredar di wilayah hukum Laksusda Jaya (sekarang Kodam Jaya).
Ihwalnya ternyata cukup serius. “Film itu mengakomodasikan teori revolusi dan kontradiksi faham komunis yang telah dilarang di Indonesia.” Begitu alasan Laksusda Jaya seperti dikutip majalah Tempo pada tempo itu. Saking serius, Syumanjaya sampai diinterogasi Laksus.
Kalangan perfilman tentu saja menyayangkan tindakan tersebut. Sebab, menurut orang-orang film itu waktu, berdasarkan Ordonansi Perfilman tahun 1940, adalah wewnang Jaksa Agung untuk melarang sebua film ― meski telah lolos sensor ― jika hal itu dianggap penting untuk kepentingan umum.
Gonjang-ganjing film berbiaya 100 juta ini berbuntut panjang sampai ke kalangan wakil rakyat. Dalam Sidang Komisi I, 9 Juni 1978, DPR menanyakan alasan pembredelan film ini kepada Menhankam M Yusuf dan Kaskopkamtib Yoga Sugama. Dan jawabannya: “Film itu bisa menimbulkan intrepretasi yang keliru,” kata Jenderal Yoga.
Malam harinya, parlemen bahkan mengundang khusus Menpen Ali Murtopo sebagai penanggungjawab BSF. Ia akui, BSF meloloskan Yang Muda Yang Bercinta untuk 17 tahun ke atas, dengan “potongan semua adegan dan dialog yang bersifat politik karena dipandang dapat mengganggu ketertiban umum.”
Kata Ali Murtopo, persoalan film ini bermula pada “pengolahan skenario oleh sutradara Sjuman Djaja” yang “memasukkan unsur-unsur politik yang dinilai dapat menimbulkan pengaruh yang negatif dalam masyarakat.” Penampilan unsur-unsur politik itu sangat menonjol dengan “dipilihnya Rendra sebagai pemeran utama.”
Faktor utamanya, sepertinya, memang terletak pada Rendra–meski hal itu kemudian ditepis pihak aparat keamanan. Terlebih, pada waktu bersamaan, Rendra ditahan Laksusda Jaya sehubungan acara pembacaan puisi di TIM. Pangkopkamtib Sudomo menganggap puisi Rendra menghasut dan dapat mendorong publik pada gejolak dan ketegangan sosial.
Di paruh dekade 1970-an, si Burung Merak memang getol menyuarakan puisi perlawanan terhadap kebijakan orde baru, dan itu tergambar
jelas dalam buku puisinya yang bertajuk Potret Pembangunan Dalam Puisi.
Di film yang skenarionya ditulis budayawan Umar Kayam, Rendra jadi si Soni. Ia mahasiswa dan penyair yang bingung menghadapi kehidupan sekelilingnya. Tapi anak muda ini — setelah mengalami proses dan pengendapan — akhirnya menemukan jalan keluar bagi dirinya.
Buat saya yang tidak tahu menahu zaman itu, penasaran juga ingin tahu film ini. Gayung bersambut. Suatu kali, kira-kira akhir 80-an atau awal 90-an, Yang Muda Yang Bercinta diputar di bioskop-bioskop Jakarta.
Di bioskop saya mendengar alasan orang menonton : lihat langgam gaya Rendra, mau tahu adegan mesra-syur Rendra dan Yati Octavia, atau yang penasaran benar-tidaknya Poppy Dharsono dalam satu scene tampil tanpa busana (kalaupun benar, pasti kena gunting sensor).
Setelah berapa hari beredar, copian film ini dalam format Beta, VHS atau kepingan VCD diburu orang — sampai kini, bahkan. Tapi saya beruntung ketika seorang user multiply menaruhnya di rapid share.
Dan berikut ini adalah pembacaan sajak Rendra di ITB, 17 Agustus 1977, dan 1 Desember di UI, yang kemudian saya tampilkan di Youtube
Add comment April 4, 2008